Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mualaf Cantik Ini Temukan Kedamaian Lewat Salat

Minggu, 13 November 2022 | November 13, 2022 WIB Last Updated 2022-11-29T03:09:04Z

 

Adellia Pratahtya sudah meneguhkan hatinya untuk memeluk Agama Islam sejak 2020 lalu. (dok pribadi/ist)

Perjalanan Adellia Pratahtya untuk memeluk agama Islam dimulai sejak dia duduk di bangku SD. Diawali dari ajakan ibundanya. Kini dia sudah meneguhkan hatinya pada ajaran Islam.

Alhamdulillah. Ungkapan itu langsung disampaikan Adellia Pratahtya ketika ditanya soal bagaimana perasaannya ketika mendapat kesempatan untuk memeluk agama Islam. Kepada Jawa Pos radar Malang, dia mengisahkan bila keyakinannya menjadi mualaf mulai tumbuh ketika dirinya duduk di bangku SD.

”Meski ketika itu belum resmi (menjadi pemeluk agama Islam), namun itu membuat saya jadi terhindar dari konflik yang mungkin saja terjadi saat saya menjadi mualaf ketika dewasa,” jelas perempuan asli Malang itu.

Dara berusia 17 tahun itu menyebut bila upayanya memeluk Islam terjadi setelah ibundanya yang sebelumnya Nasrani mengajak dia untuk menjadi mualaf. Ajakan itu terjadi setelah ibunya berpisah dengan ayahnya. Pada proses awal dia mengucapkan dua kalimat syahadat, ketika SD dulu, Adel menyebut bila saat itu belum ada bimbingan dari kiai. Dasar itulah yang membuat dia menyebut bila saat itu belum resmi menjadi mualaf.

Dia baru merasa resmi menjadi mualaf pada tahun 2020 lalu. Ketika syarat untuk mengucapkan kalimat syahadat dipenuhinya. Meski begitu, sejak duduk di kelas V SD, anak ke-2 dari empat bersaudara itu mengaku sudah aktif belajar tentang Islam. Sumber belajarnya ada banyak, mulai dari buku sampai diskusi dengan keluarga besarnya tentang agama.

”Namun, saat itu kebetulan di sekolah juga ada praktik salat untuk kelulusan. Alhasil, bisa tidak bisa harus menghafalkan gerakan dan bagaimana doa-doa di dalam salat itu,” jelas siswa SMKN 1 Singosari itu.

Seiring berjalannya waktu, Adel terus mendalami Islam. Dia mengaku akan sangat malu jika sampai dewasa nanti ilmu agamanya masih sedikit. Kini, dia makin rajin menjalankan salat.

”Saat ini kalau malam sering berdiskusi tentang Islam dengan tante dan uti (nenek),” paparnya.

Saat berada di sekolah, dia juga kerap berdiskusi dengan rekan-rekannya. Ketika proses itu dia lakukan di sekolah, beberapa temannya yang nonmuslim juga biasa ambil bagian.

”Kami diskusi dengan santai tanpa saling menyinggung satu sama sama lain,” kata dia.

Berkat rutinitas itu, dia menyebut bila hubungannya dengan rekan-rekannya yang berbeda agama makin erat. Mereka menjadi pribadi yang saling menghormati satu sama lain. Lebih lanjut Adel mengakui, semakin dia mengenal Islam, dia menyebut bila kebesaran Allah SWT makin bisa dirasakannya. Salah satu yang sering dirasakannya soal rezeki.

Dia mengaku kalau pernah dihadapkan dengan sebuah kegagalan saat mengejar sekolah favorit. Namun, di balik hal tersebut ternyata dia mendapatkan sesuatu yang besar dan lebih indah.

”Saat ini apabila ada sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, saya enggan menanggapinya dengan amarah. Saya percaya dengan rencana Allah yang pasti lebih indah,” tuturnya penuh dengan rasa yakin.

Islam juga diakui Adel membuat hati dan perasaannya lebih tenang, tenteram, dan nyaman. Sebab, dia merasa bila semua persoalan yang menimpanya selalu dipermudah oleh Allah SWT.

”Segala sesuatu seperti segera terselesaikan ketika menjalankan ibadah salat,” jelasnya.

Dia pun mengibaratkan gejolak batin dan pikirannya bisa langsung plong usai mengadu kepada Allah SWT usai salat.

Berkat itulah, Adel selalu berusaha untuk tidak meninggalkan salat. Bagaimanapun kondisinya, dia berusaha untuk menjaga ibadah tersebut.

”Ada rasa takut ibadah sebelumnya tidak diterima Allah SWT apabila ada satu waktu salat yang bolong,” tuturnya.

Rasa mengganjal dan menyesal juga kerap dirasakannya jika sampai meninggalkan salat. Apalagi di bulan Ramadan ini yang diakuinya bila ajakan untuk beribadah menjadi lebih besar.

Di bulan Ramadan saat ini, Adel juga mengaku kalau momen ngaji usai sahur sembari menunggu subuh adalah sesuatu yang nikmat. Selain membuatnya merasakan ketenteraman, dia bisa merasakan kesegaran.

”Usai ngaji dan salat rasanya saat keluar rumah itu merasakan kesejukan batin dan raga yang luar biasa,” tandasnya. (*/c1/by) 

Sumber : jawapos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update